16 Januari 2013

BO.SAN

Aku sudah bosan berada di Jogja selama dua minggu tanpa kemana-mana. Barangkali akan tetap di Jogja selama dua minggu ke depan lagi.

Aku sudah bosan membaca buku dan menulis. Toh meski aku membaca banyak buku tahun lalu, aku masih tidak tahu kenapa aku diciptakan Tuhanku. Aku sudah bosan menulis. Karena meski aku menulis dengan begitu cepat dan banyak, masih ada begitu banyak ide yang tidak tertuliskan. Maka aku bosan.

Aku sudah bosan menangis sendirian. Aku sudah bosan sendirian meraung-raung tanpa siapapun di sampingku ketika aku menangis. Aku ingin menangis di pelukan seseorang. Namun kebanyakan laki-laki memberikan lebih banyak dari pada sekedar pelukan. Sudah dapat diduga. Maka aku bosan.

Aku bosan tidur sendirian. Bosan sampai aku tidak bisa tidur karena aku kesepian. Dan bosan karena terbangun karena perasaan ditinggalkan yang begitu parah. Maka aku selalu minum antimo kalau aku tidur sendirian. Maka aku sering menginap di perpus daripada di rumah.

Aku bosan pada hidupku. Meski semua orang bilang bahwa aku menjalani hidup yang sangat seru.

13 Januari 2013

Merubah Cara Pandang Life Planning

Dulu aku ahli sekali membuat life planning. Lengkap, detail, menyeluruh di setiap segi kehidupan. Dari target spiritual, target pendidikan, target keluarga, target kepenulisan, hingga target jalan-jalan. Namun sekarang aku sudah muak dengan semua itu. Bukan karena menganggap itu tidak lagi bermanfaat. Namun aku terlalu angkuh untuk melihat targetku kembali setelah waktunya habis dan melihat bahwa begitu banyak target yang tidak kuselesaikan. Aku terlalu angkuh mengakui kekalahanku.

Aku masih percaya bahwa menuliskan keinginan, harapan, dan mimpi pada sehelai kertas sangatlah penting. Seolah-olah sudah menyelesaikan separuh jalan. Dan luar biasanya, ketika salah satu keinginan menjadi kenyataan, padahal saat dituliskan aku tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Tapi tetap, bagiku menuliskan target-target lima hingga lima puluh tahun ke depan terlalu mengada-ada. Tidak terlalu efektif bagi orang sepertiku. Yang ada malah aku menuliskan dengan semangat pada awalnya, dan tidak pernah kubuka lagi hingga dua tahun ke depan.

Maka aku menuliskan target hidupku dengan cara sebaliknya. Menulis apa saja yang akan aku lakukan kalau aku mati sekian hari lagi, atau sekian bulan lagi, atau sekian tahun lagi. Cara yang bisa jadi terlihat sangat pesimis. Tapi bukankah itu intinya life planning? Tentang apa yang aku bisa lakukan selagi aku hidup bukan?

Maka begitulah. Dengan cara berpikir seperti itu, aku akan menyelesaikan apa-apa yang belum selesai dalam hidupku. Meminta maaf pada orang-orang yang sudah lama kusakiti. Bertemu dengan orang-orang yang sudah lama kuhindari. Melakukan hal-hal mendesak yang selama ini kutunda karena berpikir masih ada banyak waktu. Dengan berpikir tidak waktu lagi untuk hidup, itu sangat efektif untuk membuat seorang angkuh seperti diriku mendapatkan pelajaran.

Dengan berpikir sebaliknya, akan ada banyak hal yang kuselesaikan dengan segera. Semoga.

Kebaikan versus Kejahatan

Kejahatan menjalar ke mana-mana. Pembunuhan dengan mutilasi, pemerkosaan pada keluarga sendiri, penjualan manusia, perbudakan, perang berkepanjangan, pembakaran tempat-tempat ibadah, kekerasan, korupsi, dan masih banyak lagi. Tiada satu detik pun berlangsung tanpa terjadi satu tindakan kekerasan. Padahal Islam sejak ribuan tahun lalu telah hadir di muka bumi dan agama inilah yang dijanjikan Allah SWT sebagai rahmatan lil ’alamin. Keberadaannya memiliki berkah bagi seluruh makhluk dunia.

Kalau begitu, lantas kenapa masih ada begitu banyak kejahatan terjadi? Bukankah Allah menjanjikan bahwa kebaikan, yang dalam hal ini diwakili Islam, pasti akan menang melawan kejahatan? Tapi kenapa kejahatan seperti tidak ada habis-habisnya? Kapan kebaikan akan kembali menang dan kejahatan terhapus dari muka bumi? Kenapa setiap hal yang kita lakukan untuk menghapus kejahatan seolah-olah tidak ada pengaruhnya bagi kejahatan itu sendiri? Sampai kapan ini akan berlangsung? Kenapa kebaikan sampai sekarang selalu saja menjadi pihak yang kalah?

Barangkali pesan Umar bin Khattab pada Sa’ad bin Abi Waqqash saat ‘Singa Allah’ ini menjadi komandan ekspedisi untuk menghentikan kekejian Persia bisa menjadi jawaban serangkaian pertanyaan di atas.
Amma ba’du, sesungguhnya aku memerintahkanmu untuk bertaqwa kepada Allah atas segalanya. Sebab, taqwa kepada Allah adalah persiapan paling sempurna untuk menghadapi musuh dan sejeli-jelinya tipu daya dalam pertempuran. Aku perintahkan kamu dan orang yang menyertaimu untuk selalu menjaga diri dari perbuatan maksiat yang berasal dari diri kalian sendiri, daripada maksiat dari musuh-musuh kalian. Sebab, dosa tentara kita lebih aku takutkan daripada kekuatan musuh.
Ketahuilah bahwasanya kemenangan kaum muslimin disebabkan perbuatan maksiat musuh-musuh mereka terhadap Allah. Kalau bukan demikian, kita tidak punya kekuatan apa-apa. Karena jumlah kita tidak sebanyak mereka, dan persiapan tempur tidak selengkap persiapan mereka. Jika kita berbuat maksiat, maka mereka memiliki keunggulan kekuatan (karena jumlah dan persenjataan yang lebih canggih). Kita bisa menang karena keutamaan kita.
Sebenarnya ada banyak keajaiban peperangan yang dialami umat Islam dalam sejarah, misalnya ketika berperang melawan imperium Tiran Romawi dan Tiran Persia. Keajaiaban terjadi ketika hanya dengan 30.000 tentara Islam saat itu mampu membuat ratusan ribu pasukan lawan kocar-kacir. Keajaiban ini terjadi karena Islam berperang demi kebaikan dan memiliki pasukan yang tidak kalah baik moralnya. Mereka berpuasa selama berperang dan sholat ketika jeda. Sedangkan umat Islam pun pernah kalah dalam Perang Uhud karena terburu-buru ingin mengambil harta rampasan perang. Shalahuddin Al-Ayyubi pun melihat sebab kekalahan umat Islam selama ini: bahwa kaum muslimin telah lupa terhadap nabinya. Demikianlah, kekuatan moral-mental-spiritual yang dimiliki Umat Islam merupakan penentu kemenangan dalam peperangan. Barangkali tingkat kehebatan dan kecanggihan peralatan militer yang dimiliki oleh salah satu pihak dalam peperangan bukan jaminan untuk mendapatkan kemenangan. Moral pasukan lah yang lebih menentukan. Kegagalan menumpas kejahatan pun bisa jadi disebabkan karena banyaknya maksiat yang kita lakukan meski kita ada di pihak yang benar.

Alasan sebenarnya kenapa kebaikan, dalam hal ini umat Islam, terus menerus mengalami kekalahan, adalah karena kita sendiri tidak menjaga moral masing-masing. Syarat pertama untuk menang adalah memperkuat ketaqwaan kepada Allah dan menjaga diri dari perbuatan maksiat. Kemenangan kebenaran hanya akan diraih bila pihak yang memperjuangkannya sudah pantas menerima kemenangan itu.

---
Dimuat dalam muslim-academy.com pada 9 Januari 2013

(Palestina #3) Karena Kita Bangsa Indonesia.

Warga Indonesia yang baik pasti peduli dengan permasalahan Palestina, sebagaimana dulu para pendiri negeri ini (founding fathers Indonesia) menjadikan Palestina sebagai bagian dari perjuangan Indonesia. Alasan-alasan kenapa kita sebagai warga negara Indonesia harus peduli dengan permasalahan Palestina sangatlah mendasar. Alasan-alasan ini berkaitan dengan dasar negara, landasan idealisme, landasan konstitusional, serta kondisi strategis bangsa Indonesia. Mengabaikan alasan-alasan ini berarti tidak utuh menjadi warga negara Indonesia.

Karena Indonesia anti-penjajahan
Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. – Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.
Inilah sikap dan komitmen bangsa Indonesia untuk menentang segala bentuk penjajahan yang merupakan pelanggaran terhadap kemanusiaan dan keadilan. Indonesia adalah negara yang sudah kenyang dengan penjajahan. Pada masa penjajahan, kekayaan alam Indonesia dirampas, rakyatnya ditindas, dan tanahnya diduduki. Tentu berita mengenai tidak adilnya penjajahan sudah sering terdengar. Latar belakang inilah yang membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling keras menentang penjajahan. Apalagi penjajahan yang dilakukan Israel pada Palestina sudah sedemikian parah: penjajahan kuno dan modern sekaligus, istilahnya: kolonialisme dan imperialisme jadi satu. Kesemuanya itu menjadi alasan kuat bagi seorang warga negara Indonesia untuk peduli pada permasalahan Palestina.

Untuk mewujudkan perdamaian dunia

Salah satu dari empat tujuan berdirinya negara ini adalah untuk mewujudkan perdamaian dunia. Hal ini kemudian yang ditafsirkan dalam kebijakan luar negeri Indonesia yang ‘bebas-aktif’. Prinsip ‘bebas’ berarti bahwa kebijakan luar negeri Indonesia seharusnya independen, tidak bisa didikte oleh kekuatan asing. Indonesia memiliki sikap sendiri. Sedangkan ‘aktif’ seharusnya berarti berperan aktif dan berinisiatif mewujudkan perdamaian dunia. Tentu saja perdamaian ini didasarkan pada persamaan, keadilan, dan perdamaian abadi.

Demi perdamaian dunia itulah, Indonesia dan kita sebagai warganya, harus menegaskan sikap: melawan Israel dan segala bentuk ancaman terhadap perdamaian dunia.

Indonesia sangat terpengaruh kondisi Palestina

Carut marut Indonesia ternyata sangat erat kaitannya dengan masih eksisnya zionisme Israel dan penjajahan atas Palestina. Eksistensi zionis Israel ditopang oleh sebuah sistem Internasional, yang juga mencengkram Indonesia. Sebaliknya, eksistensi sistem internasional yang kejam itu hanya bisa eksis dengan adanya eksistensi penjajah Israel.

Eksistensi Israel yang merupakan manivestasi vulgar dari penguasaan zionisme yang imperialis (Imperialis adalah bentuk tertinggi dari kapitalisme, kata Lenin) saling tergantung dan bergantung dengan kapitalis global semacam IMF dan World Bank. Semuanya saling terkait. Itu berarti, kalau kita tidak peduli dengan permasalahan Palestina dan menganggapnya hanya sekedar masalah perebutan tanah saja, Indonesia jelas tidak akan pernah bisa keluar dari krisis.

Indonesia berhutang budi pada Palestina

Pada 6 September 1945, Mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (saat itu ia berada di Jerman) mengirimkan ucapan selamat atas ‘pengakuan Jepang’ pada kemerdekaan Indonesia yang disiarkan di Radio Berlin yang berbahasa Arab. Ucapan selamat ini berpengaruh besar di dunia Arab saat itu. Kedutaan Besar Belanda di Mesir segera membantah kemerdekaan Indonesia di media Le Journal d’Egypte. Selain itu di Palestina sendiri, M. Ali Taher mengambil semua uangnya di bank dan menginfakkannya membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada juga Sami Taha yang mengutuk Belanda.

Jadi bukankah sekarang waktu yang tepat untuk membalas budi rakyat Palestina kepada kita?

Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia

Tiap-tiap muslim adalah pejuang kemanusiaan dan keadilan. Sebagai negara yang seharusnya tingkat kemanusiaan dan keadilannya paling tinggi di dunia, tentulah akan menentang ketidakadilan meski itu terjadi jauh dari lokasi geografis Indonesia.

Nah, apa masih ada alasan untuk tidak peduli pada Palestina?

Bibliografi:
Tulisan ini merupakan ringkasan dari Bagian Kedua Bab Pertama buku Palestine Emang Gue Pikirin – Shofwan Al-Banna, 2006, Yogyakarta: Pro-U Media.

---

03 Januari 2013

Buku yang Kubaca 2012

Ada SERATUS DUA PULUH ENAM buku yang kubaca tahun 2012. Berikut kuurutkan bersadarkan jumlah bintang yang kuberikan:

LIMA BINTANG
1. The Solitaire Mystery - Gaarder, Jostein
2. Lapar: Negeri Salah Urus - Khudori
3. Buku Harian Anne Frank - Frank, Anne
4. Animal Farm - Orwell, George
5. Puteri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng - Gaarder, Jostein
6. Persepolis: The Story of a Childhood - Satrapi, Marjane
7. Negeri Senja: Roman - Ajidarma, Seno Gumira
8. Vita Brevis: Sebuah Gugatan dari Cinta - Gaarder, Jostein
9. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels - Toer, Pramoedya Ananta
10. Bukan Pasarmalam - Toer, Pramoedya Ananta
11. A Tale of Two Cities - Dickens, Charles
12. Around the World in Eighty Days and 5 Weeks in a Balloon - Verne, Jules
13. Down and Out in Paris and London - Orwell, George
14. Pride and Prejudice - Austen, Jane
15. 9 dari Nadira - Chudori, Leila S.
16. Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia - Sirimorok, Nurhady
17. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (novel) - EA, Puthut
18. Wisanggeni: Sang Buronan - Ajidarma, Seno Gumira
19. Aleph - Coelho, Paulo
20. Aku Ingin Jadi Peluru - Thukul, Wiji
21. Kitab Omong Kosong - Ajidarma, Seno Gumira
22. Palestine: A. Emang Gue Pikirin? B. Emang Gue Pikirin! - Al-Banna, Shofwan

EMPAT BINTANG
23. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken - Gaarder, Jostein
24. Danny Si Juara Dunia - Dahl, Roald
25. The Little Prince: Pangeran Kecil - Saint-Exupéry, Antoine de
26. Perfume: The Story of a Murderer - Süskind, Patrick
27. Great Expectations - Dickens, Charles
28. The Witches - Ratu Penyihir - Dahl, Roald
29. Charlie and the Great Glass Elevator: Charlie dan Elevator Kaca Luar Biasa - Dahl, Roald
30. Kota Antah Berantah - Gaiman, Neil
31. The Count of Monte Cristo - Dumas, Alexandre
32. Sekali Peristiwa di Banten Selatan - Toer, Pramoedya Ananta
33. One Piece, Volume 04: The Black Cat Pirates (One Piece, #4) - Oda, Eiichiro
34. One Piece, Volume 02: Buggy the Clown (One Piece, #2) - Oda, Eiichiro
35. One Piece, Volume 01: Romance Dawn (One Piece, #1) - Oda, Eiichiro
36. The Twits: Keluarga Twit - Dahl, Roald
37. Bordir - Satrapi, Marjane
38. Saya Terbakar Amarah Sendirian! - Vltchek, André
39. Penembak Misterius - Ajidarma, Seno Gumira
40. Memperjuangkan Harta Finniston (Lima Sekawan, #18) - Blyton, Enid
41. Sepotong Senja untuk Pacarku: Sebuah Komposisi Dalam 13 Bagian - Ajidarma, Seno Gumira
42. Eleven Minutes - Coelho, Paulo
43. Kill the Radio: Sebuah Radio Kumatikan - Herliany, Dorothea Rosa
44. The Invention of Hugo Cabret - Selznick, Brian
45. Gadis Pantai - Toer, Pramoedya Ananta
46. Saga no Gabai Bachan - Shimada, Yoshichi
47. Ayam dengan Plum - Satrapi, Marjane
48. Jalan Tak Ada Ujung - Lubis, Mochtar
49. Jakarta 2039 - Ajidarma, Seno Gumira
50. Kaas - Elsschot, Willem
51. Para Pemuja Matahari - Wahyudyanti, Lutfi Retno
52. Zlata's Diary: A Child's Life in Wartime Sarajevo - Filipović, Zlata
53. San Pek Eng Tay: Romantika Emansipasi Seorang Perempuan - O.K.T.
54. Identitas - Kundera, Milan
55. Hikayat Kadiroen: sebuah novel - Semaoen
56. Matilda - Dahl, Roald
57. Perusahaan Rokok Untung Besar : Jangan Tanya Mengapa - Prasetyo, Eko

TIGA BINTANG
58. Hamlet - Shakespeare, William
59. Illegal Alien: Kisah Petualangan Imigran Gelap di Amerika Serikat - Suryawan, Agung
60. Transformasi Agraria dan Transisi Agraris - Gunawan Wiradi, Sabic Carebesth (ed.)
61. Survival 2: Bertahan Hidup di Amazon - Choi Duk-Hee dan Kang Gyung-Hyo
62. 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia - Narasi, Tim
63. TTS Pilihan Kompas Jilid 2 - Triatmono, Hero
64. Travelers' Tales - Belok Kanan: Barcelona! - Mulya, Adhitya
65. Dengan Pujian, Bukan Kemarahan [Rahasia Pendidikan dari Negeri Sakura] - Arif, Nesia Andriana
66. Midah Simanis Bergigi Emas - Toer, Pramoedya Ananta
67. Vampire Dari Sussex (The Adventure of The Sussex Vampire) - Sherlock Holmes Series Book 4 - Doyle, Arthur Conan
68. Si Jamin dan Si Johan - Siregar, Merari
69. A Life Force - Daya Hidup - Eisner, Will
70. Dropsie Avenue: The Neighborhood - Jalan Raya Dropsie: Pemukiman - Eisner, Will
71. A Contract With God - Kontrak Dengan Tuhan - Eisner, Will
72. Sherlock Holmes Short Stories - Laude, Anthony
73. Dongeng Calon Arang - Toer, Pramoedya Ananta
74. Through a Glass, Darkly - Gaarder, Jostein
75. Ke Bukit Billycock (Five Go To Billycock Hill) - Lima Sekawan Book 16 - Blyton, Enid
76. Epileptik 1 [L'Ascension du Haut Mal, Omnibus 1-3] - B., David
77. Catatan-catatan dari Buenos Aires - Cerpen Amerika Latin - Kurnia, Anton
78. One Piece, Volume 13: It's All Right! (One Piece, #13) - Oda, Eiichiro
79. One Piece, Volume 18: Ace arrives (One Piece, #18) - Oda, Eiichiro
80. One Piece, Volume 11: Greatest Evil of the East (One Piece, #11) - Oda, Eiichiro
81. One Piece, Volume 10: OK, Let's Stand Up! (One Piece, #10) - Oda, Eiichiro
82. One Piece, Volume 07: The Crap-Geezer (One Piece, #7) - Oda, Eiichiro
83. One Piece, Volume 05: For Whom the Bell Tolls (One Piece, #5) - Oda, Eiichiro
84. One Piece, Volume 06: The Oath (One Piece, #6) - Oda, Eiichiro
85. One Piece, Volume 19: Rebellion (One Piece, #19) - Oda, Eiichiro
86. Bicycle Diaries - Fadhillah, Nadia Aghnia
87. Sacrifice - Shanower, Eric
88. A Thousand Ships - Shanower, Eric
89. Kereta Tidur - Armand, Avianti
90. Harmonika Lelaki Sepi - Wirambara, Andi
91. Juara Gulat - Sayudi
92. Ironi Palestina - Assegaf, Faisal
93. Mata Jendela - Damono, Sapardi Djoko
94. James dan Persik Raksasa - Dahl, Roald
95. Anna Karenina - Tolstoy, Leo
96. Politik Santun dalam Kartun - Misrad, Muhammad Mice
97. Jejak - Rose, Kit
98. The Magic Finger - Dahl, Roald
99. Five Get into a Fix (Famous Five, #17) - Blyton, Enid
100. The Giraffe and The Pelly and Me: Si Jerapah dan Si Pelly dan Aku - Dahl, Roald
101. Student Hidjo - Kartodikromo, Marco
102. Tokyo Techno (Read-It! Chapter Books) - Thompson, Lisa
103. Mr. Fox yang Fantastis - Fantastic Mr. Fox - Dahl, Roald
104. Wawasan Kesepuluh - Redfield, James
105. The Celestine Prophecy - Redfield, James
106. Curhat si Koel - Winata, Kurnia Harta
107. Koel Dalam Galau - Winata, Kurnia Harta

DUA BINTANG
108. Sebuah Pertanyaan untuk Cinta - Ajidarma, Seno Gumira
109. The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Stevenson, Robert Louis
110. Ahmadinejad Menentang Amerika - D Danny H Simanjuntak
111. Misteri Penculikan Kolektor Serakah (Alfred Hitchcock & Trio Detektif, #43) - Carey, M.V.
112. Misteri Kaca-kaca Remuk (Alfred Hitchcock & Trio Detektif, #38) - Arden, William
113. Esio Trot: Aruk-aruk - Dahl, Roald
114. Robinson Crusoe - Dafoe, Daniel
115. Duka-Mu Abadi - Damono, Sapardi Djoko
116. Kalatidha - Ajidarma, Seno Gumira
117. Celana - Pinurbo, Joko
118. Kabut Manusia - Dahana, Radhar Panca

SATU BINTANG
119. Mekar Karena Memar - Tobing, Alex L.
120. Utamakan Istri Muda - Pinkgirlgowild
121. Dear You: Demi Apa? Demikian Aku Mencintaimu - Emka, Moammar
122. Ringkasan Dan Ulasan Novel Indonesia Modern - Mahayana, Maman S.
123. Bu Kek Siansu - Hoo, Asmaraman S. Kho Ping
124. A Moveable Feast - Hemingway, Ernest
125. Hansel and Grethel and Other Tales (1920) - Grimm, Jacob Ludwig Karl
126. Unce Upon A Time in Jogja

Rekap Tiket 2012 yang Terselamatkan

Keseluruhan tiket yang terselamatkan selama 2012 sejumlah SERATUS TIGA lembar tiket. Berikut rinciannya.

Tiket Transportasi:
- 26 tiket bis eksekutif Joglosemar PP Semarang-Jogja
- 2 tiket bis PATAS Nusantara Semarang-Jogja
- 1 tiket bis PATAS Ramayana Semarang-Jogja
- 3 tiket travel Rahayu Persada PP Wonosobo-Jogja
- 1 tiket bis Ekonomi PATAS Sumber Kencono Surabaya-Jogja
- 1 tiket bis Ekonomi PATAS Sumber Kencono Solo-Jogja
- 1 tiket travel Cipaganti Jogja-Bandung
- 1 tiket bis PATAS Efisiensi Jogja-Purwokerto
- 1 tiket bis PATAS Efisiensi Purwokerto-Jogja
- 1 tiket bis PATAS Bandung-Bogor
- 1 tiket bis malem Safari Dharma Raya Bogor-Jogja
- 4 tiket Trans Jakarta nominal Rp3.500,-
- 2 tiket Trans Jakarta nominal Rp2.000,-
- 2 tiket kartu magnetic langganan Trans Jogja
- 1 tiket Commuter Line Bogor-UI
- 1 tiket ekonomi KRL UI-Bogor

16 Tiket Kereta:
- Bogowonto: Pasar Senen - Jogja
- Bogowonto: Jogja - Pasar Senen
- Lodaya Malam: Bandung - Jogja
- Pasundan: Jogja - Surabaya
- Madiun Jaya: Purwosari-Jogja
- KRDI Madiun Jaya AC: Balapan-Jogja
- Madiun Jaya AC: Madiun-Jogja
- Gaya Baru Malam: Lempuyangan-Gubeng
- Gaya Baru Malam: Gubeng-Lempuyangan
- 7 tiket Prambanan Ekspress: IV, VI, 9, 10, 12, 17, 18

10 Tiket Pintu Tol:
- Banyumanik
- Cawang Tomang Cengkareng C-T-C
- Cikarang Utara
- Pasar Rebo
- Slipi 2
- Ciperna Utama
- Plumbon 4
- Karang Tengah
- Ciawi
- Gayamsari

Tiket Masuk Lain-Lain:
- Tiket Sekaten 2012
- Tiket Pasar Malam Kencana Ria Jepara
- Tiket Taman Kaliurang
- Karcis Terminal Giwangan
- Karcis Terminal Terboyo
- Karcis Taman Nasional Bromo - Tengger - Semeru
- Tiket Masuk Kawasan Wisata Gunung Bromo
- Kupon Naik Kuda - Kusuma Argowisata Batu Malang
- Karcis Masuk Kebun Kusuma Argowisata Batu Malang
- Tiket dan Kupon Makan Kusuma Argowisata Batu Malang
- Karcis Cawan-Monas
- Tiket Baru Museum Vredeburg
- Tiket Museum Ullen Sentalu
- Tiket Kebun Raya Bogor
- Tiket Kebun Binatang Tamansari Bandung
- Tiket Kebun Binatang Surabaya
- Tiket Monumen Kapal Selam Surabaya
- Tiket Telaga Warna dan Telaga Pengilon Dieng
- Tiket Candi Arjuna dan Kawah Sikidang Dieng
- Tiket Telaga Menjer Dieng
- Tiket Dieng Plateau Theatre

Tiket Nonton:
- 21 Lewat Djam Malam
- 21 Perahu Kertas
- 21 Perahu Kertas 2
- 21 Negeri 5 Menara
- Jogja Asian Film Festival #7 Nono (Phillipines)
- Jogja Asian Film Festival #7 Postcard from the Zoo (Indonesia)
- Jogja Asian Film Festival #7 Negeri di Bawah Kabut (Indonesia)

02 Januari 2013

West Bank Barrier – A Brief Story

Since June 16, 2002, the Israeli Government has been constructing a West Bank Barrier in Jerusalem. The concrete wall is 750 kilometers in length and eight meters high. Thick concrete walls are equipped with trenches, barbed wire, electrified wire, watch towers, electronic sensors, video cameras, unmanned aircraft, sniper towers, and roads for patrol vehicles. The point is: there is no possibility to penetrate the wall.

The barrier wall was built in a zig zag shape through ten of 11 districts; across all cities in the West Bank. Construction of the first phase started from the west to north of Jerusalem along 145 kilometers and was completed in July, 2003. The second phase is underway, ranging from eastern West Bank to southern Jerusalem. This wall needed a lot of funding, but the total cost of construction was never made public. For the barrier wall maintenance alone, Israel has to spend U.S $4.7 million/mile. So the total funds needed for the maintenance of the West Bank Barrier along the 750 kilometers is U.S. $ 3.4 billion.

Construction of the barrier wall was not without argument. In 2004, the International Court in The Hague issued a resolution stating that the barrier wall was illegal and should be dismantled. But Israel did not heed the resolution and kept continuing the construction. The argument was that the West Bank Barrier limits the mobilization of the Palestinian people. Not everyone can get out of the barrier wall. If they can, they must go through a lot of inspection procedures in layers which are strictly guarded. The residents inside the wall were blocked.

Moreover, the results of the Palestinian elections in 2007 were won by Hamas, which upset Israel greatly. Because of this, Israel closed across the borders of sea, air, and land between the Gaza Strip with the surrounding area since mid June, 2007. This included the Erez crossing and Sovia (Gaza-Israel), Rafah (Gaza-Egypt), and Karen Shalom (Gaza-Egypt-Israel). Passenger traffic, goods, and services are very limited. The supply of food, water, electricity, medicine, and other materials were depleted. The same thing also happened in West Bank.

It not only blockades daily needs, the barrier wall separates lovers from their partners. It also separates fathers from their families. It separates people from their work to earn a living. It blockades the water way that causes the water crisis in the West Bank. Most importantly, Israel is basically building a ‘prison’ for the innocent residents of Palestine.

The construction of the West Bank Barrier is not without protest. The first argument came from the territory surrounded by the Barrier Wall. Residents do not want to be blocked. The second challenge comes from the international community. Of course, Israel’s isolation is irritating humanity.

The Berlin Wall, which separated Germany into West and East Germany, closed long ago. The fall of the Berlin Wall was considered as the start of a new democratic world. But actually it wasn’t. Israel commits the same behavior as the NAZI’s with repression, dictators, tyranny, and cruelty by building a blockade wall that divides Palestinian territory.

Bibliography:
Assegaf, Faisal. Ironi Palestina. Jakarta: Hamas Lovers. 2010.
http://www.atjehcyber.net/2012/04/tahukah-anda-tembok-pemisah-palestina.html diakses pada tanggal 20 Desember 2012