Tampilkan postingan dengan label dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia. Tampilkan semua postingan

10 Oktober 2013

Buta Warna

Seandainya aku terlahir buta warna, maka dunia terlihat sebagai bayangan yang nyata.

Segitukah suramnya dunia? Aku hanya bisa bertanya. Tentu saja tidak pernah membandingkan, aku tidak tahu apa itu warna. Aku hidup dan mengisi hidup seperti orang biasa. Barangkali orang biasa pun mengisi hidup sama seperti orang buta warna. Tidak ada gesekan, juga tabrakan. Hingga muncul persyaratan masuk kuliah, kemudian persyaratan masuk kerja. Orang-orang biasa memberi batasan pada orang-orang yang tidak melihat dunia seperti bagaimana mereka melihat dunia. Adilkah? Bisa jadi adil, untuk jurusan dan pekerjaan yang benar-benar membutuhkan kepekaan warna. Tapi disingkirkan untuk pekerjaan sehari-hari karena buta warna? Yang benar saja.

Ini sama salahnya dengan apartheid; merendahkan golongan yang berbeda. Sama salahnya dengan Nazi; merasa unggul lalu menyingkirkan cacat. Sama salahnya dengan kediktatoran dan ketotaliterian; melarang perbedaan pandangan.

Padahal setiap orang hidup dalam dunianya sendiri. Persis seperti orang buta warna dan dunianya.

10 Maret 2013

Book as World's Window

People said that book is world's window.
Yes it is.
And it is only a window.
From a book you can see the world, same as you see your garden trough you home window.
Without moving an inch.

But it's not the world.
The real world is out there.
To get there, you have to close your window, and go out.
To get there, you have to close your book, and travel.

You have to experience the real world yourself.
Understand the real world yourself.
And start a journey.
Because book is only a window.

13 Januari 2013

Kebaikan versus Kejahatan

Kejahatan menjalar ke mana-mana. Pembunuhan dengan mutilasi, pemerkosaan pada keluarga sendiri, penjualan manusia, perbudakan, perang berkepanjangan, pembakaran tempat-tempat ibadah, kekerasan, korupsi, dan masih banyak lagi. Tiada satu detik pun berlangsung tanpa terjadi satu tindakan kekerasan. Padahal Islam sejak ribuan tahun lalu telah hadir di muka bumi dan agama inilah yang dijanjikan Allah SWT sebagai rahmatan lil ’alamin. Keberadaannya memiliki berkah bagi seluruh makhluk dunia.

Kalau begitu, lantas kenapa masih ada begitu banyak kejahatan terjadi? Bukankah Allah menjanjikan bahwa kebaikan, yang dalam hal ini diwakili Islam, pasti akan menang melawan kejahatan? Tapi kenapa kejahatan seperti tidak ada habis-habisnya? Kapan kebaikan akan kembali menang dan kejahatan terhapus dari muka bumi? Kenapa setiap hal yang kita lakukan untuk menghapus kejahatan seolah-olah tidak ada pengaruhnya bagi kejahatan itu sendiri? Sampai kapan ini akan berlangsung? Kenapa kebaikan sampai sekarang selalu saja menjadi pihak yang kalah?

Barangkali pesan Umar bin Khattab pada Sa’ad bin Abi Waqqash saat ‘Singa Allah’ ini menjadi komandan ekspedisi untuk menghentikan kekejian Persia bisa menjadi jawaban serangkaian pertanyaan di atas.
Amma ba’du, sesungguhnya aku memerintahkanmu untuk bertaqwa kepada Allah atas segalanya. Sebab, taqwa kepada Allah adalah persiapan paling sempurna untuk menghadapi musuh dan sejeli-jelinya tipu daya dalam pertempuran. Aku perintahkan kamu dan orang yang menyertaimu untuk selalu menjaga diri dari perbuatan maksiat yang berasal dari diri kalian sendiri, daripada maksiat dari musuh-musuh kalian. Sebab, dosa tentara kita lebih aku takutkan daripada kekuatan musuh.
Ketahuilah bahwasanya kemenangan kaum muslimin disebabkan perbuatan maksiat musuh-musuh mereka terhadap Allah. Kalau bukan demikian, kita tidak punya kekuatan apa-apa. Karena jumlah kita tidak sebanyak mereka, dan persiapan tempur tidak selengkap persiapan mereka. Jika kita berbuat maksiat, maka mereka memiliki keunggulan kekuatan (karena jumlah dan persenjataan yang lebih canggih). Kita bisa menang karena keutamaan kita.
Sebenarnya ada banyak keajaiban peperangan yang dialami umat Islam dalam sejarah, misalnya ketika berperang melawan imperium Tiran Romawi dan Tiran Persia. Keajaiaban terjadi ketika hanya dengan 30.000 tentara Islam saat itu mampu membuat ratusan ribu pasukan lawan kocar-kacir. Keajaiban ini terjadi karena Islam berperang demi kebaikan dan memiliki pasukan yang tidak kalah baik moralnya. Mereka berpuasa selama berperang dan sholat ketika jeda. Sedangkan umat Islam pun pernah kalah dalam Perang Uhud karena terburu-buru ingin mengambil harta rampasan perang. Shalahuddin Al-Ayyubi pun melihat sebab kekalahan umat Islam selama ini: bahwa kaum muslimin telah lupa terhadap nabinya. Demikianlah, kekuatan moral-mental-spiritual yang dimiliki Umat Islam merupakan penentu kemenangan dalam peperangan. Barangkali tingkat kehebatan dan kecanggihan peralatan militer yang dimiliki oleh salah satu pihak dalam peperangan bukan jaminan untuk mendapatkan kemenangan. Moral pasukan lah yang lebih menentukan. Kegagalan menumpas kejahatan pun bisa jadi disebabkan karena banyaknya maksiat yang kita lakukan meski kita ada di pihak yang benar.

Alasan sebenarnya kenapa kebaikan, dalam hal ini umat Islam, terus menerus mengalami kekalahan, adalah karena kita sendiri tidak menjaga moral masing-masing. Syarat pertama untuk menang adalah memperkuat ketaqwaan kepada Allah dan menjaga diri dari perbuatan maksiat. Kemenangan kebenaran hanya akan diraih bila pihak yang memperjuangkannya sudah pantas menerima kemenangan itu.

---
Dimuat dalam muslim-academy.com pada 9 Januari 2013

(Palestina #3) Karena Kita Bangsa Indonesia.

Warga Indonesia yang baik pasti peduli dengan permasalahan Palestina, sebagaimana dulu para pendiri negeri ini (founding fathers Indonesia) menjadikan Palestina sebagai bagian dari perjuangan Indonesia. Alasan-alasan kenapa kita sebagai warga negara Indonesia harus peduli dengan permasalahan Palestina sangatlah mendasar. Alasan-alasan ini berkaitan dengan dasar negara, landasan idealisme, landasan konstitusional, serta kondisi strategis bangsa Indonesia. Mengabaikan alasan-alasan ini berarti tidak utuh menjadi warga negara Indonesia.

Karena Indonesia anti-penjajahan
Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. – Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.
Inilah sikap dan komitmen bangsa Indonesia untuk menentang segala bentuk penjajahan yang merupakan pelanggaran terhadap kemanusiaan dan keadilan. Indonesia adalah negara yang sudah kenyang dengan penjajahan. Pada masa penjajahan, kekayaan alam Indonesia dirampas, rakyatnya ditindas, dan tanahnya diduduki. Tentu berita mengenai tidak adilnya penjajahan sudah sering terdengar. Latar belakang inilah yang membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling keras menentang penjajahan. Apalagi penjajahan yang dilakukan Israel pada Palestina sudah sedemikian parah: penjajahan kuno dan modern sekaligus, istilahnya: kolonialisme dan imperialisme jadi satu. Kesemuanya itu menjadi alasan kuat bagi seorang warga negara Indonesia untuk peduli pada permasalahan Palestina.

Untuk mewujudkan perdamaian dunia

Salah satu dari empat tujuan berdirinya negara ini adalah untuk mewujudkan perdamaian dunia. Hal ini kemudian yang ditafsirkan dalam kebijakan luar negeri Indonesia yang ‘bebas-aktif’. Prinsip ‘bebas’ berarti bahwa kebijakan luar negeri Indonesia seharusnya independen, tidak bisa didikte oleh kekuatan asing. Indonesia memiliki sikap sendiri. Sedangkan ‘aktif’ seharusnya berarti berperan aktif dan berinisiatif mewujudkan perdamaian dunia. Tentu saja perdamaian ini didasarkan pada persamaan, keadilan, dan perdamaian abadi.

Demi perdamaian dunia itulah, Indonesia dan kita sebagai warganya, harus menegaskan sikap: melawan Israel dan segala bentuk ancaman terhadap perdamaian dunia.

Indonesia sangat terpengaruh kondisi Palestina

Carut marut Indonesia ternyata sangat erat kaitannya dengan masih eksisnya zionisme Israel dan penjajahan atas Palestina. Eksistensi zionis Israel ditopang oleh sebuah sistem Internasional, yang juga mencengkram Indonesia. Sebaliknya, eksistensi sistem internasional yang kejam itu hanya bisa eksis dengan adanya eksistensi penjajah Israel.

Eksistensi Israel yang merupakan manivestasi vulgar dari penguasaan zionisme yang imperialis (Imperialis adalah bentuk tertinggi dari kapitalisme, kata Lenin) saling tergantung dan bergantung dengan kapitalis global semacam IMF dan World Bank. Semuanya saling terkait. Itu berarti, kalau kita tidak peduli dengan permasalahan Palestina dan menganggapnya hanya sekedar masalah perebutan tanah saja, Indonesia jelas tidak akan pernah bisa keluar dari krisis.

Indonesia berhutang budi pada Palestina

Pada 6 September 1945, Mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (saat itu ia berada di Jerman) mengirimkan ucapan selamat atas ‘pengakuan Jepang’ pada kemerdekaan Indonesia yang disiarkan di Radio Berlin yang berbahasa Arab. Ucapan selamat ini berpengaruh besar di dunia Arab saat itu. Kedutaan Besar Belanda di Mesir segera membantah kemerdekaan Indonesia di media Le Journal d’Egypte. Selain itu di Palestina sendiri, M. Ali Taher mengambil semua uangnya di bank dan menginfakkannya membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada juga Sami Taha yang mengutuk Belanda.

Jadi bukankah sekarang waktu yang tepat untuk membalas budi rakyat Palestina kepada kita?

Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia

Tiap-tiap muslim adalah pejuang kemanusiaan dan keadilan. Sebagai negara yang seharusnya tingkat kemanusiaan dan keadilannya paling tinggi di dunia, tentulah akan menentang ketidakadilan meski itu terjadi jauh dari lokasi geografis Indonesia.

Nah, apa masih ada alasan untuk tidak peduli pada Palestina?

Bibliografi:
Tulisan ini merupakan ringkasan dari Bagian Kedua Bab Pertama buku Palestine Emang Gue Pikirin – Shofwan Al-Banna, 2006, Yogyakarta: Pro-U Media.

---

02 Januari 2013

West Bank Barrier – A Brief Story

Since June 16, 2002, the Israeli Government has been constructing a West Bank Barrier in Jerusalem. The concrete wall is 750 kilometers in length and eight meters high. Thick concrete walls are equipped with trenches, barbed wire, electrified wire, watch towers, electronic sensors, video cameras, unmanned aircraft, sniper towers, and roads for patrol vehicles. The point is: there is no possibility to penetrate the wall.

The barrier wall was built in a zig zag shape through ten of 11 districts; across all cities in the West Bank. Construction of the first phase started from the west to north of Jerusalem along 145 kilometers and was completed in July, 2003. The second phase is underway, ranging from eastern West Bank to southern Jerusalem. This wall needed a lot of funding, but the total cost of construction was never made public. For the barrier wall maintenance alone, Israel has to spend U.S $4.7 million/mile. So the total funds needed for the maintenance of the West Bank Barrier along the 750 kilometers is U.S. $ 3.4 billion.

Construction of the barrier wall was not without argument. In 2004, the International Court in The Hague issued a resolution stating that the barrier wall was illegal and should be dismantled. But Israel did not heed the resolution and kept continuing the construction. The argument was that the West Bank Barrier limits the mobilization of the Palestinian people. Not everyone can get out of the barrier wall. If they can, they must go through a lot of inspection procedures in layers which are strictly guarded. The residents inside the wall were blocked.

Moreover, the results of the Palestinian elections in 2007 were won by Hamas, which upset Israel greatly. Because of this, Israel closed across the borders of sea, air, and land between the Gaza Strip with the surrounding area since mid June, 2007. This included the Erez crossing and Sovia (Gaza-Israel), Rafah (Gaza-Egypt), and Karen Shalom (Gaza-Egypt-Israel). Passenger traffic, goods, and services are very limited. The supply of food, water, electricity, medicine, and other materials were depleted. The same thing also happened in West Bank.

It not only blockades daily needs, the barrier wall separates lovers from their partners. It also separates fathers from their families. It separates people from their work to earn a living. It blockades the water way that causes the water crisis in the West Bank. Most importantly, Israel is basically building a ‘prison’ for the innocent residents of Palestine.

The construction of the West Bank Barrier is not without protest. The first argument came from the territory surrounded by the Barrier Wall. Residents do not want to be blocked. The second challenge comes from the international community. Of course, Israel’s isolation is irritating humanity.

The Berlin Wall, which separated Germany into West and East Germany, closed long ago. The fall of the Berlin Wall was considered as the start of a new democratic world. But actually it wasn’t. Israel commits the same behavior as the NAZI’s with repression, dictators, tyranny, and cruelty by building a blockade wall that divides Palestinian territory.

Bibliography:
Assegaf, Faisal. Ironi Palestina. Jakarta: Hamas Lovers. 2010.
http://www.atjehcyber.net/2012/04/tahukah-anda-tembok-pemisah-palestina.html diakses pada tanggal 20 Desember 2012

Breaking the Discrimination Chain

“… The term ‘discrimination’ includes any distinction, exclusion, limitation or preference which, being based on race, color, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, economic condition or birth, has the purpose or effect of nullifying or impairing equality of treatment in education..” Article 1 of the Convention against Discrimination in Education, UNESCO, Paris, 14 December 1960.

” O mankind, indeed We have created you from male and female and made you peoples and tribes that you may know one another.” Surah Al-Hujurat (49:13)

Discrimination as a theory has been widely known. Every human being deserves a chance to life just like everybody else regardless of innate traits he had. Lessons about pluralism and discrimination themselves even been taught since elementary school. Everyone agrees that they want to be respected as human beings. Everyone have the right to live freedom from fear and pressure, the right to study within the educational system, the right to work, the right to choose the best, and the right to express opinions responsibly.

But how is the reality? Discrimination is still a major problem of mankind today. There are a lot of wars in the name of faith differences in many corners of the earth. Slavery still happening just because of the skin color differences. Education and health care services among different social classes just like heaven and earth. Even people with limited physical abilities who has special needs may never considered to exist. Here, in the world we live in today, there almost no one who has never experienced discrimination in his life.

The elimination of discrimination has been started since the Prophet Muhammad came with Islam. Al Quran states that Arabs are not more superior than non-Arab, and white is not more superior than black. Islam emphasizes equality and apply it in the community since 1400 years ago. Eliminating racism is one of the most extraordinary achievements of Islam. Martin Luther King, Jr. did the same thing. He was an American clergyman, activist, and prominent leader in the African-American Civil Rights Movement. He is best known for his role in the advancement of civil rights using nonviolent civil disobedience. There was Malcolm X who spread anti-racism vision and values of the humanist side of Islam, evocative of the Afro-American and the world. There was Nelson Mandela who eliminated Apartheid discrimination in South Africa. He reconciled victims of discrimination without creating new discrimination against perpetrators.

But discrimination continues to happen. Maybe discrimination is being born simultaneously with the human rights itself. Sometimes people are not aware that they unconsciously discriminate others. For example, people unwittingly being rude to beggars and polite to politicians. For example, people assume that only women allowed to cry and men shouldn’t. For example, people enjoy the physical discrimination that showed in TV comedy programs. Even the question about the origin race of the newly friend can lead into clustering and grouping people. This tendency to grouping others has to be eliminated.

Well yes, there are too many Anti-Discrimination Acts that created by human. When actually only one solution for that: break the discrimination chains now. The only and the most potent way against discrimination is to not discriminate itself. Don’t discriminate others, by ourselves. If not, no one knows how many decades more human race will be struggling only with the difference. The world will not change as long as people do not want change themselves. [Nad]

” Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves.” (Surah Ar-Ra’ad: 11)

Operasi Timah Panas: Hari Ini Empat Tahun Lalu

Lebih dari 1.300 penduduk Palestina di Jalur Gaza tewas selama 22 hari serangan Israel dari laut, udara dan darat. Penduduk Palestina di Gaza tidak punya tempat lagi untuk melarikan diri karena Israel telah menutup perbatasan sejak dua tahun sebelumnya. Serangan Israel merupakan bencana bagi 1,5 juta penduduk Gaza yang mayoritas merupakan pengungsi perempuan dan anak-anak.

Tepat empat tahun lalu, dimulai pada 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009, militer Israel melakukan serangan di Jalur Gaza, yang disebut Operasi Cast Lead – Operasi Timah Panas. Kerugian yang diderita masyarakat setempat belum pernah terjadi sebesar ini sebelumnya dalam satu kali operasi serangan: 1.390 jiwa penduduk Palestina tewas, padahal 759 orang di antaranya tidak mengambil bagian dalam permusuhan. Dari jumlah tersebut, 318 nya adalah anak-anak yang berumur di bawah 18 tahun. Lebih dari 5.300 penduduk Palestina terluka, 350 orang dari mereka luka serius. Israel juga menyebabkan kerusakan besar pada perumahan, bangunan industri, pertanian, infrastruktur pembangkit listrik, sanitasi, dan kesehatan, yang tadinya pun sudah di ambang kehancuran sebelum serangan. Menurut angka yang dirilis PBB, pada Operasi Timah Panas ini Israel menghancurkan lebih dari 3.500 pemukiman sehingga sekitar 20.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Selama diserang, pihak Palestina yang diwakili Hamas juga menembakkan roket dan mortir ke Israel. Serangan balasan ini menewaskan tiga warga sipil Israel dan satu anggota pasukan keamanan Israel, dan membuat puluhan orang terluka. Sembilan tentara Israel tewas dalam Jalur Gaza. Lebih dari 100 tentara terluka, satu kritis, dan 20 terluka serius.

Satu setengah tahun pasca Operasi Timah Panas selesai, daerah yang terkena dampak paling luas di Jalur Gaza belum dibangun kembali. Pada Juni 2010, Israel melakukan pembatasan masuknya produk ke Gaza termasuk bahan konstruksi. Bahan konstruksi hanya diperbolehkan untuk proyek-proyek pembangunan yang berada di bawah pengawasan internasional. Pembatasan ini mencegah pembangunan kembali rumah-rumah yang hancur dan rusak, dan lebih dari 20.000 orang harus terus hidup dalam kondisi penuh sesak di dalam apartemen sewaan, tenda-tenda, atau menumpang. Pembatasan masuknya bahan konstruksi juga mencegah rehabilitasi infrastruktur listrik yang rusak sehingga 90 persen warga Gaza saat itu menderita pemadaman listrik hingga 12 jam sehari. Pemadaman ini terjadi sejak Israel membom pembangkit listrik Gaza pada tahun 2006 dan ditambah lagi selama Operasi Timah Panas telah terjadi perselisihan antara Hamas dan Otoritas Palestina mengenai siapa yang menanggung tanggung jawab untuk menutupi biaya bahan bakar.

Distribusi setengah juta liter bahan bakar ke Jalur Gaza pada 25 Agustus 2010 berhasil mengurangi durasi pemadaman listrik, yang sekarang berlangsung selama 4-6 jam sehari. Pemadaman listrik sangat memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan di Jalur Gaza, karena menyebabkan kerusakan pada peralatan medis dan terbatasnya ketersediaan listrik untuk pengoperasiannya. Sistem kesehatan tidak dapat berfungsi dengan baik karena kurangnya peralatan medis maupun aliran listrik. Sehingga pasien yang kritis mengalami kesulitan menerima perawatan medis yang diperlukan. Kurangnya infrastruktur juga mengganggu akses ke pengolahan air minum dan air limbah. Sekitar 3.000 penduduk Palestina di bagian utara Jalur Gaza tidak memiliki akses terhadap air, dan 80 juta liter aliran limbah mentah disalurkan melalui saluran terbuka.

Saya sedang tidak ingin menghakimi siapa yang bersalah dalam hal ini. Saya hanya ingin mengatakan bahwa operasi semacam ini tidak boleh terjadi lagi di pojok manapun di muka bumi.

Sumber: http://nevercastleadagain.wordpress.com/

---

Dimuat dalam muslim-academy.com pada 28 Desember 2012

Malcolm X: Islam dan Persamaan Hak

Malcolm X adalah seorang tokoh Muslim kulit hitam Amerika (Afro-Amerika) juga pejuang anti diskriminasi dan persamaan hak. Lahir pada 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska, AS, dengan nama asli Malcolm Little. Semasa kecilnya, Malcolm dan keluarganya sering menjadi sasaran penembakan, pembakaran rumah, pelecehan, dan ancaman lantaran ayahnya adalah anggota militan UNIA-organisasi untuk mewadahi perbaikan hidup bagi orang Afro-Amerika. Tindakan kekerasan yang diterima keluarga Malcolm mencapai puncak saat ayahnya dibunuh kelompok rasis kulit putih ketika Malcolm berusia enam tahun.

Kehilangan seorang ayah mengubah kehidupan Malcolm menjadi anak yang liar. Sekolahnya putus ketika ia berusia sekitar 15 tahun. Kehidupan jalanan seperti kejahatan antargeng, narkotika, minuman keras, perjudian, dan pelacuran menyeretnya ke penjara pada usia 20 tahun dan ditahan hingga usia 27 tahun.

Namun, dari balik tembok penjara Chalestown State, dia justru menemukan pencerahan diri. Ia membaca, menulis, berdiskusi dengan kedua saudaranya, Philbert dan Hilda. Diskusi yang dilakukan berkaitan dengan ajaran agama Islam di tempat kedua saudaranya terlibat, yakni Nation of Islam (NoI). Dari sinilah Malcolm mengenal NoI.

Malcolm juga mengadakan kontak melalui surat dengan Elijah Muhammad, pimpinan sekaligus tokoh NoI. Berkat Elijah, Malcolm memahami arti ketertindasan dan ketidakadilan yang menimpa ras kulit hitam sepanjang sejarah. Sejak itu, Malcolm menjadi seorang napi yang kutu buku. Ia menekuni sastra, agama, bahasa, sejarah, dan filsafat. Ia memutuskan masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Malcolm X. Inisial X menunjukkan bahwa ia adalah eks perokok, eks pemabuk, eks Kristen, dan eks budak.

Pada hari pembebasannya pada 1952, Malcolm langsung pergi ke Chicago untuk bergabung dengan kegiatan NoI. Dengan bergabungnya Malcolm, NoI berkembang menjadi organisasi yang berskala nasional. Malcolm sendiri menjadi figur yang terkenal di dunia, mulai dari wawancara di televisi, majalah, dan pembicara di berbagai universitas terkemuka dan forum lainnya. Kepopulerannya muncul atas kata-katanya yang tegas dan kritis tentang diskriminasi dan sikap kekerasan yang ditunjukkan kaum kulit putih terhadap kulit hitam.

Sayangnya, NoI sendiri bersikap rasis. Sehingga menolak bantuan apa pun dari kalangan kulit putih yang benar-benar mendukung perjuangan antidiskriminasi. Pandangan tersebut tentu saja bertentangan dengan ajaran Islam yang tidak membedakan kehormatan dan kehinaan seseorang berdasarkan ras. Karena hal itu, Malcom X memutuskan keluar dari NoI.

Setelah menunaikan haji pada 1964, Malcolm X tercerahkan untuk yang kedua kali. Ia melihat kaum Muslimin dari seluruh dunia, dari berbagai ras, bangsa, dan warna kulit yang semuanya memuji Tuhan yang satu dan tidak saling membedakan.

”Pengalaman haji yang saya alami dan lihat sendiri, benar-benar memaksa saya mengubah banyak pola pikir saya sebelumnya dan membuang sebagian pemikiran saya.”

”Saya melihat hal yang tidak pernah saya lihat selama 39 tahun hidup di Amerika Serikat. Saya melihat semua ras dan warna kulit bersaudara dan beribadah kepada satu Tuhan tanpa menyekutukannya.”

Kata-kata ini sebagai bukti bahwa dirinya mengubah pandangan hidup, dari memperjuangkan hak sipil orang Negro ke gagasan internasionalisme dan humanisme Islam. Ia juga mengganti namanya menjadi el-Hajj Malik el-Shabazz, meski nama Malcolm X jauh lebih populer. Kebenaran Islam telah menunjukkan kepada dirinya bahwa kebencian membabi buta kepada semua orang kulit putih adalah sikap yang salah, seperti halnya jika sikap yang sama dilakukan orang kulit putih terhadap orang Negro. Menghapus diskriminasi rasialis tanpa menciptakan diskriminasi baru terhadap pelaku.

Malcolm X akhirnya mendirikan Organization of Afro-American Unity pada 28 Juni 1964 di New York. Melalui organisasi ini, ia menerbitkan Muhammad Speaks (Muhammad Berbicara) yang kini diganti menjadi Bilalian News (Kabar Kaum Bilali [Muslim Kulit Hitam]). Namun tak lama, pada 21 Februari 1965, Malcolm X tewas ditembak oleh tiga orang Afro-Amerika dari NoI. Barangkali dianggap sebagai pengkhianat organisasi lamanya.

Kendati demikian, impian Malcolm X menyebarkan visi antirasisme dan nilai-nilai Islam yang humanis, menggugah kalangan Afro-Amerika dan dunia. Banyak yang menaruh simpati padanya. Kini pesan perjuangan Malcom X terus disampaikan antar generasi melalui berbagai dokumenter, buku, juga film.[nad]

---

Dimuat dalam muslim-academy.com pada 27 Desember 2012

25 Desember 2012

(Palestina #2) Kisah Tembok Pemisah.

Sejak 16 Juni 2002, Pemerintah Israel membangun Tembok Pemisah di Yerusalem. Panjang tembok seluruhnya 750 kilometer dengan tinggi delapan meter. Dinding beton tebal ini dilengkapi dengan parit perlindungan, kawat berduri, kawat beraliran listrik, menara pengawas, sensor elektronik, kamera video, pesawat pengintai tanpa awak, menara penembak jitu, dan jalanan untuk patroli kendaraan. Intinya: tidak ada kemungkinan menerobos tembok.

Tembok itu dibangun secara zig zag melalui sepuluh dari sebelas distrik; melintasi semua kota di Tepi Barat. Pembangunan tahap pertama mulai dari sebelah barat Tepi Barat hingga utara Yerusalem sepanjang 145 kilometer sudah selesai pada Juli 2003. Tahap kedua sedang berlangsung, mulai dari timut Tepi Barat hingga selatan Yerusalem.
Pembangunan tembok pemisah ini bukan tanpa kendala. Tembok ini memakan biaya yang sangat besar yang jumlah total biaya pembangunannya tidak pernah diumumkan ke publik. Hanya saja, sekadar untuk biaya perawatan tembok menghabiskan dana sebesar US$ 4.7 juta/kilometer. Sehingga keseluruhan dana yang dibutuhkan Israel untuk perawatan tembok pemisah sepanjang 730 kilometer tersebut sebesar US$ 3.4 Milliar (Rp 33 Trilliun).

Dengan dibangunnya Tembok Pemisah antara Jalur Gaza dan wilayah Israel, mobilisasi rakyat Palestina menjadi sangat terbatas. Tidak setiap orang dapat keluar dari tembok pemisah. Kalaupun bisa, perbatasan dijaga dengan sangat ketat, dan harus melalui prosedur pemeriksaan yang berlapis-lapis. 1,5 Juta penduduk Jalur Gaza yang berada di dalam tembok, diblokir Israel. Keberadaan tembok ini memudahkan Israel melakukan blokade kepada penduduk Jalur Gaza.

Sebenarnya pada tahun 2004, Pengadilan Internasional di Den Haag mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa tembok pembatas yang dibangun Israel itu ilegal dan harus dibongkar. Namun Israel tidak mengindahkan resolusi itu dan tetap meneruskan pembangunan tembok pembatas tersebut.

Terlebih hasil pemilu Palestina pada 2007 yang dimenangkan oleh Hamas, kelompok anti-Israel garis keras, membuat Israel murka. Karena itu sejak pertengahan Juni 2007, seluruh pintu perbatasan laut, udara, dan darat antara Jalur Gaza dengan wilayah sekitarnya, ditutup. Termasuk perlintasan Erez dan Sovia (Gaza-Israel), Rafah (Gaza-Mesir), dan Karen Shalom (Gaza-Mesir-Israel). Lalu lintas penumpang, barang, dan jasa pun sangat dibatasi. Sehingga pasokan bahan makanan, air, listrik, obat-obatan, dan material lain pun menipis.

Tidak hanya blokade yang diderita penduduk Jalur Gaza, Tembok Pemisah juga memisahkan seorang kekasih dari pasangannya yang berada di luar tembok. Ia juga memisahkan suami dari istrinya dan ayah dari anak-anaknya kalau ia dipenjarakan Israel. Ia memisahkan penduduk Jalur Gaza dengan pekerjaannya mencari nafkah karena kebutuhan sehari-hari yang harganya semakin melambung akibat blokade. Yang paling penting, Israel membangun ‘penjara’ bagi penduduk Jalur Gaza yang tidak berdosa.

Pembangunan Tembok Pemisah yang berhasil dari sudut pandang Israel ini bukan berarti tanpa protes. Tentangan pertama datang dari penduduk yang wilayahnya dikelilingi Tembok Pemisah, mereka tidak ingin diblokir. Tantangan kedua datang dari masyarakat internasional. Tentu saja isolasi yang dilakukan Israel selama ini adalah pelecehan kemanusiaan.

Kasus Tembok Berlin membelah Kota Berlin jadi dua: Berlin Jerman Barat dan Berlin Jerman Timur, juga sudah lama selesai. Keruntuhan Tembok Berlin dinilai sebagai dimulainya dunia baru yang demokratis dan peduli pada Hak Asasi Manusia. Tapi kenyataannya tidak. Israel malah meniru habis kelakuan rezim represif, kediktatoran, tiranik, kejam, dan berdasarkan penindasan, dengan membangun Tembok Pemisah yang berdiri angkuh membelah Tanah Palestina.

---

Bibliografi:
Assegaf, Faisal. Ironi Palestina. Jakarta: Hamas Lovers. 2010.
http://www.atjehcyber.net/2012/04/tahukah-anda-tembok-pemisah-palestina.html diakses pada tanggal 20 Desember 2012

---
Dimuat di muslim-academy.com pada 19 Desember 2012.

(Palestina #1) Karena Kita Manusia.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang dianugerahi banyak keistimewaan: otak untuk berpikir, hati nurani untuk merasa, dan fisik untuk bekerja. Dengan kepemilikannya itu, manusia menjadi satu-satunya makhluk yang paling berkompeten untuk memakmurkan bumi. Manusialah yang bisa mengembangkan peradaban, teknologi, ilmu pengetahuan, dan semua hal untuk mengolah lingkungan sekitarnya. Potensi tersebut menjadikan manusia mampu menjalankan tugasnya menjadi benar-benar manusia; menjadi khalifah di muka bumi.

Sayangnya, manusia seringkali kehilangan kemanusiaannya. Manusia yang seharusnya menjadi khalifah malah jadi makhluk perusak. Homo homini lupus; manusia adalah serigala untuk manusia yang lain. Exploitation l’homme par l’homme; eksploitasi manusia terhadap sesamanya.

Termasuk apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina selama tujuh puluh tahun terakhir. Pendudukan Israel atas Palestina adalah sebuah kejahatan kemanusiaan. Bagaimana tidak, terjadi setidaknya tujuh belas genosida yang dilakukan secara terencana oleh Israel.

Every human being has the inherent right to life. This right shall be protected by law.” Article 6, International Convenant on Civil and Political Rights.

Pembantaian Desa Balad Asy-Syeikh dan Hawasyah pada 1 Januari 1948 menjadi pembantaian pertama Israel terhadap Palestina, meminta korban 200 jiwa. Pembantaian Naashiruddin pada 13 Mei 1948. Pembantaian Bait Darais pada 21 Mei 1948. Pembantaian Allad1 dan Allad2 pada 11-12 Juli 1948, memakan korban 250 jiwa pada hari pertama dan 350 jiwa pada hari kedua. Pembantaian Shafat; merenggut 70 jiwa pemuda Arab. Pembantaian Deir Yassin pada 9 Oktober 1948 mengorbankan 600 jiwa. Pembantaian Ad-Duwaimah, 30 Oktober 1984; memakan korban 96 orang dan anak-anak. Pembantaian ‘Ailbun; korban 12 pemuda. Pembantaian Shafshaf di Al-Jalil; korban 52 orang Palestina. Pembantaian Qabiyyah pada 14 Oktober 1953 merenggut 2.000 jiwa. Pembantaian Kafr Qasim mengambil 49 nyawa termasuk wanita dan anak-anak pada 29 Oktober 1956. Pembantaian di Masjid Ibrahim di Hebron dilakukan seorang warga Israel di masjid ketika Muslim sedang shalat berjamaah dengan senjata otomatis; 24 jiwa melayang dan 350 luka berat, hanya dalam waktu 10 menit. Pembantaian kota Shabra dan Shatilla pada 18 September 1982, Israel menyerbu habis pemukiman pengungsi Palestina di Lebanon, korban sekitar 12.000 jiwa. Pembantaian ‘Uyun Qaara pada 20 Mei 1989; tujuh orang tewas seketika. Pembantaian Bahr Al Baqr, sebuah bom dijatuhkan Israel pada sebuah sekolah penuh anak-anak. Pembantaian pengungsian Qana di Lebanon; 100 orang meninggal, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak.

Semua ini belum termasuk penyebaran teror dan ketakutan pada tiap anak Palestina, juga penangkapan dan penghapusan kebebasan pada warga Palestina yang vokal melawan, penyiksaan di luar batas kemanusiaan yang terjadi hampir di tiap penjara milik Israel, penggusuran dan deportasi gila-gilaan, penghancuran sarana pendidikan bagi anak-anak Palestina, penghancuran ekonomi untuk melumpuhkan otoritas negara, memblokir dengan membangun tembok setinggi delapan meter dan panjang sejauh 750 kilometer agar masyarakat Palestina tidak bisa ke mana-mana, dan serta pelarangan melakukan ibadah dengan bebas baik bagi pemeluk agama Islam maupun Nasrani.

Semua tindakan yang dilakukan Israel jelas tidak bisa dibiarkan atas nama kemanusiaan. Dilogikakan dengan bagaimanapun juga tetap tidak masuk akal. Ditanyakan pada hati pun mencederai nurani.

Sekarang saatnya untuk membuktikan bahwa kita manusia. Bukan hanya dengan berbicara, tapi juga dengan bertindak. Memang susah menjadi manusia, karena banyak konsekuensi yang menyertai kemanusiaan kita. Tapi setidaknya kita telah berusaha.

---

Bibliografi:
Banna, Shofwan Al. Palestine, Emang Gue Pikirin. Yogyakarta: Pro-U Media. September 2006.
Assegaf, Faisal. Ironi Palestina. Jakarta: Hamas Lovers. 2010.
Chai, Ang Swee. From Beirut to Jerusalem. Jakarta: Mizan Pustaka. Juli 2006. 

---
Dimuat di muslim-academy.com pada 18 Desember 2012

16 Juli 2012

Boikot yang Kulakukan

Tiba-tiba aku sadar, ternyata aku punya banyak pantangan dalam berperilaku. Bukan anti juga. Tapi mengurangi atau menghindari. ‪#boikot

Atau kalaupun belum, setidaknya punya niat untuk melakukannya. ‪#boikot

Kasarnya sih pakai kata ‪#boikot‬, agak halus dan agak gaul sih ‪pakai kata #diet‬. Diet impor, diet protein, apa aja deh, diet dompet juga boleh ;D

(1) Aku memilih tidak punya motor pribadi. Aku bisa naik sepeda, trans jogja yang lama itu, dan ya ngasih rejeki tukang ojek. ‪#boikot

(2) Aku tidak pakai Blackberry. Tuduhan kapitalisku memang mentah. Tapi aku tidak suka ide kalau harus punya merek handphone yang sama untuk bisa menghubungi seseorang. ‪#boikot

(3) Aku tidak beli T-Shirt lagi. Aku sudah punya setumpuk. Dua minggu aku gak nyuci pun masih bisa. Aku tidak punya alasan beli lagi. ‪#boikot

(4) Aku menghapus akun FB krn: FB menjual data akun untuk analisis pasar kapitalis, gak adanya tombol 'dislike', juga gaya hidup facebook. ‪#boikot

(5) Aku gak akan pernah mau ke Starbucks. 95% kopi mereka berasal dari ladang yang dieksploitasi parah. ‪Dan buruh mereka digaji rendah sekali. Seorang buruh butuh upah tiga hari kerja untuk bisa membeli segelas kopi di Starbucks. #boikot

(6) Aku tidak minum Coca Cola, atau Pepsi. Karena mereka supporter utama zionisme, gaya hidup konsumerisme, dan gak penting juga. Aku kan gak akan mati kalau gak minum mereka. Malah sebaliknya kan. ‪#boikot

(7) Aku gak makan McDonalds, KFC, PizzaHut, karena mereka pendukung zionisme, gaya hidup konsumerisme, kapitalisme raksasanya, dan gak penting juga. Sama, aku juga gak akan mati kalau gak makan itu. ‪#boikot

(8) Aku gak makan eskrim Baskin Robins dan menghindari Wall's. Sama dengan alasan sebelumnya. Enakan es dungdung atau bikin sendiri. ‪#boikot

(9) Aku mengurangi makan mie dan roti. Meski tergoda. Karena meski pabriknya di Indonesia, tapi kan kita impor semua gandumnya. ‪#boikot

(10) Aku mengindari beras impor. Meski kadang gabisa ngecek asal muasal negara si nasi yang bersangkutan. Lagipula enakan beras Rojo Lele Delangu dari Klaten dong! ‪#boikot

(11) Aku ga pake gula impor. Apa manisnya gula putih begitu? Yang ada bikin pahit nasib petani tebu. Lagipula manisan gula pasir kuning lokal. ‪Bonus senyum manis dari aku. Hahahahaha. #boikot

(12) Aku gak pake garam impor. 50% kebutuhan garam kita impor loh, dengan garis pantai seluas ini! Yang ada malah menggarami luka petani garam kita dengan garam impor. ‪#boikot

(14) Masih banyak impor-impor lain. Buah, pakan ternak, daging sapi, singkong! Amannya sih seafood lokal atau tanem singkong sendiri. Haha. ‪#boikot

(13) Aku maunya gak konsumsi Air Minum Dalam Kemasan lagi. Karena sumber mata air yg dimonopoli bikin konflik lingkungan dan sosial. ‪Tapi sekarang masih belum. Masih sibuk ngumpulin uang buat beli keramik filternya. #boikot

Sementara segitu ingetnya. Itu pantanganku buat diriku sendiri. Gak urusan kalau oranglain. Karena aku bebas milih, pun oranglain. ‪#boikot

Karena itu juga kalo ketemu aku di salah satu gerai KFC jangan kaget. Keluargaku suka sekali makan di sana meski aku satu-satunya yang gak makan. ‪#boikot

Setelah kultwit yang menyebalkan, maka mari lihat seberapa banyak yang memboikot akun twitterku. Hehe. ‪#boikot

16 Juni 2012

Buku dan Kemampuannya Mengubah Dunia

Buku dapat mengubah dunia, katanya.

Sebuah buku dapat menyulut perang dan genosida, misalnya jilid 1 dan 2 Mein Kampf yang ditulis Hitler. Sebuah buku dapat menggugat teori kebenaran sehingga terwujud dalam Revolusi Perancis, misalnya Prinsipia Mathematic yang ditulis Isaac Newton. Sebuah buku juga dapat mempertanyakan kekuasaan modal dan ketidakadilan kelas sosial yang ditimbulkannya, misalnya keempat jilid Das Kapital yang ditulis Karl Marx.

Tapi buku-buku itu tidak hadir begitu saja dalam bentuk buku lalu mengubah dunia dengan sendirinya. Untuk bisa mengubah dunia, ada beberapa tahap yang harus ditempuh sebuah buku:

1. Ditulis dulu.
Percuma sebesar apapun ide yang kamu punya, kalau tidak ditulis hanya akan sia-sia. Scripta manet Verba volant: yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin. Kamu khotbah di mana-mana atau jadi pembicara di seminar-seminar tetap saja akan mudah dilupakan dibanding kalau kata-kata itu dituliskan. Tulis di kertas dengan tangan, pahat di batu, ketik di komputer, simpan dulu ide di media sosial, atau apapun lah; tulis dulu.

2. Dicetak.
Aku tahu ini memang jamannya digital, tapi tetap saja buku yang sudah kamu tulis harus dicetak. Buku-buku digital memang lebih mudah disebar, namun tidak banyak orang yang mampu membaca buku elektronik. Maka cetaklah, bawa ke penerbit, kalau tidak ada penerbit yang berani menerbitkan bukumu, maka terbitkanlah sendiri. Cetak dengan bawa sendiri ke percetakan. Tapi pastikan pohon-pohon tidak akan sia-sia hidupnya dengan mengorbankan diri untuk mencetak buku-bukumu. Pastikan bukumu bukan buku yang sia-sia dibaca.

3. Disebarkan atau Didistribusi.
Buku-bukumu yang sudah dicetak, distribusikan ke orang-orang. Dengan gratis atau bayar itu tergantung kebijakanmu sendiri. Ide-ide dalam bukumu bisa kamu sebar melalui poster-poster dan ditempelkan di seluruh penjuru kota. Ide-ide juga bisa disebarkan melalui digital, misalnya media sosial. Namun perlu diingat bahwa menulis di media sosial tak ubahnya berkata-kata, mudah hilang mudah tenggelam. Karena di saat bersamaan muncul banyak informasi baru, dan tetap membuat buku tidak tergantikan. Ide-ide yang disebarkan melalui digital juga biasanya tidak menyeluruh, dan informasi yang sepenggal lebih rentan mengalami salah persepsi.

4. Dibaca.
Buku-buku hebat banyak dimiliki hanya untuk pajangan rak buku, seolah-olah pemiliknya juga ikutan hebat. Tapi justru itulah penyebab buku-buku itu kehilangan kekuatannya. Buku-buku menjadi hebat karena ia dibaca orang. Percuma bila tidak dibaca. Tulisan di dalamnya, isinyalah yang menjadi inti perubahan dunia. Maka bacalah buku-buku itu. Turunkanlah buku itu dari raknya yang berdebu. Baca sendiri, atau bacakan pada orang lain.

5. Diambil tindakan berdasarkan buku itu.
Setelah dibaca lantas apa? Buku adalah benda pasif. Ia dibaca. Ia memang katanya bisa mengubah dunia. Tapi sebenarnya yang bisa mengubah dunia adalah orang yang membaca buku itu, lantas mengambil tindakan dengan mendapatkan inspirasi dari buku itu. Melakukan aksi! Melakukan sesuatu! Tidak semua buku hebat pantas ditelan bulat-bulat isinya, dan dipatuhi semua kata-katanya. Ada berbagai macam tindakan terhadap buku selain menelannya bulat-bulat. Misalnya diet makanan impor setelah membaca buku laporan pangan Indonesia. Misalnya tidak minum air kemasan setelah membaca pengaruh perusahaan air minum terhadap irigasi lokal. Misalnya mendiskusikan atau membedah buku itu bersama teman-teman, atau hingga membuat buku tandingan bila tidak suka pada isinya. Yang penting melakukan sesuatu yang bertanggung jawab, tidak diam saja setelah membaca buku tersebut.

Maka, jadilah penulis yang memberikan kontribusi pada dunia.
Serta jadilah pembaca yang mampu mengubah dunia.

30 Mei 2012

Surat Untuk Bintang

Malam Bintang,
Salam kenal,

Aku senang ada yang mengajakku berkorespondensi melalui surat. Sayangnya Bintang, aku lebih suka dengan korespondensi tulis tangan daripada melalui email seperti ini. Terlalu cepat, terlalu instan, dan terlalu mudah. Persis seperti anak muda jaman sekarang yang dunianya seolah berputar sangat cepat. Ah anak muda. Bisa apa anak muda dengan keinstanan itu? Apa yang bisa mereka pelajari dari kehidupan kalau mereka suka hidup dengan cara yang instan seperti itu Bin?

Haha, pasti kamu heran ya, Bintang yang baik.

Memangnya siapa aku, kenapa bisa-bisanya aku berkata seperti itu tentang anak muda jaman sekarang? Apakah kamu sedang mendapatkan surat dari seorang tua? Haha, tidak Bintang. Bukan begitu.

Aku sendiri masih muda kalau ukuran muda adalah lama hidup di bumi, umurku masih 22 tahun. Umur yang seharusnya sedang sibuk dengan dunianya, dan tergila-gila pada dunia yang bisa digenggamnya dengan mudah. Bukankah begitu, Bintang yang cerah?

Dengan umurku yang 22 tahun ini, untuk sementara aku belum punya keinginan untuk hidup lebih lama dari 25 tahun. Aku sangat ingin mati Bin, sangat ingin mati muda. Keinginanku mati muda sudah kupunya sejak aku SMA kalau tidak salah ingat, sekitar tujuh tahun lalu. Hanya saja aku sendiri terlalu pengecut untuk bunuh diri. Karena aku masih meyakini, kematian hanyalah hak Tuhan. Aku manusia, tidak diperkenankan mengetahuinya. Tapi keinginan saja tidak dilarang kan Bin?

Pasti di sini kamu heran lagi, Bintang sahabat baruku.

Kenapa aku begitu ingin mati? Hmm, bagaimana menjelaskannya ya, darimana aku mulai menjelaskannya ya Bintang. Karena ada begitu banyak alasan yang dimiliki dunia ini yang membuatku sangat ingin mati muda.

Suatu ketika, ada teman yang berkata padaku, bahwa aku itu seperti pembatas buku. Anggaplah sejarah Indonesia ini ada dalam sebuah buku. Di dalam buku itu ada satu bab mengenai generasi tua, dan bab selanjutnya mengenai generasi muda jaman sekarang. Nah aku ini berada di tengah-tengahnya sebagai pembatas buku. Aku tidak termasuk generasi tua karena aku memang tidak dilahirkan di masa itu. Aku pun tidak seperti generasi muda ketika aku tidak sepaham dengan mereka, tidak berpikir dengan cara yang sama, pun tidak melakukan hal yang sama.

Manusia sepertiku entah manusia yang terlambat lahir di dunia ini, karena aku lebih memahami generasi tua daripada generasi anakmuda jaman sekarang. Atau bisa jadi aku malah manusia yang terlalu cepat hadir untuk generasi ini. Aku berpikir tentang masa yang akan datang dimana keinstanan atau kemudahan hidup yang dimiliki anak muda jaman sekarang tidak ada manfaatnya bagi pengalaman hidup mereka.

Tapi pemikir hebat seperti Soe Hok Gie atau Ahmad Wahib kan juga pada dasarnya adalah orang-orang yang terlalu cepat hadir bagi generasi mereka. Semoga saja aku begitu, seperti mereka. Aku orang yang terlalu cepat hadir di generasiku sehingga apa yang aku katakan atau aku pikirkan tidak bisa dipahami mereka.

Mungkin kamu tidak habis pikir, Bintang yang ramah. Kenapa aku bisa seperti ini. Tadinya aku pun bingung, ada apa denganku, apa yang salah dengan hidupku. Tapi belakangan mungkin aku bisa mengambil kesimpulan dari kebiasaanku.

Aku orang yang mungkin agak terlalu banyak membaca buku sejarah dan juga sastra. Buku-buku yang jarang dibaca anak muda jaman sekarang, Bintang. Dan dari buku-buku itu, aku kemudian muak ketika melihat kenyataan ternyata dunia ini tidak pernah belajar dari masa lalunya. Aku pun muak melihat kebejatan yang dilakukan manusia kepada manusia yang lain. Exploitation de l'homme par l'homme katanya, eksploitasi manusia oleh sesama manusia. Kemuakan ini membuatku lelah Bin, lelah sekali untuk hidup. Lelah sekali menjadi bagian dari umat manusia yang seperti ini.

Karena banyak membaca buku-buku seperti itu, aku menjadi orang yang sangat banyak bertanya, sangat banyak mempertanyakan, sangat banyak menggugat kenyataan. Apapun aku tanyakan, apapun aku pertanyakan, dan apapun aku gugat, Bintang sahabatku.

Mungkin kamu pikir banyak mempertanyakan adalah sebuah bentuk ketajaman pikiran, kritis katanya. Awalnya pun bagiku seperti itu. Awalnya bagi teman-temanku pun seperti itu, Bintang. Jadi pada awalnya kubiarkan saja.

Tapi ini sudah melewati batas. Pertanyaan-pertanyaanku membuatku gelisah tidak bisa tidur setiap malam. Mereka membawa serta mimpi-mimpi buruk yang membuatku ketakutan menutup mataku setiap malam. Pertanyaan-pertanyaanku membuatku gelisah tidak mampu makan. Mereka membawa serta nasib-nasib petani yang dirugikan dari makanan yang kumakan. Mereka juga membawa kelaparan dan kemiskinan yang diderita lebih dari separuh manusia di bumi, Bintang.

Pada akhirnya pertanyaan-pertanyaanku itu semakin lama membuatku ingin mati. Pertanyaan-pertanyaanku kini membunuhku! Bukan kritis namanya kalau begini, aku kini sekarat!

Maka aku menulis surat ini kepadamu, Bintang, cahaya yang berpendar lemah dari bumi. Setidaknya kamu menawarkan harapan di kegelapan malam. Bukankah semakin gelap malam, maka semakin bersinar dirimu, Bintang Sahabatku?

Aku menulis karena dengan menulis aku mampu menunda bunuh diri. Aku menulis surat ini karena aku menunda mati. Setidaknya untuk malam ini.

Selamat malam Bintang,
Hiduplah selama-lamanya.

Ruang Duduk Rumah Jogja,
30 Mei 2012
19:16

Nadia Aghnia Fadhillah
@nadanakaneh

---

Di perjalanan menuju warnet barusan aku hampir ketabrak, dan kalau surat ini tidak jadi aku publikasikan, bagaimana kelanjutannya? Seru yah? Hahaha.

06 April 2012

israel-iran war

can you smell that? | what? | the smell of blood from afar | the war comes closer, isn't it? | israel-iran war is coming soon.

can you hear that? | what? | the sound of crying out loud from afar | the war comes closer, isn't it? | israel-iran war is coming soon.

can you see that? | what? | that smoke from northwest haze afar | had the israel-iran war started yet? | not yet. but soon.